Surat Sekjen 1090 klik di sini Undangan 445 Raker klik di sini SE 515 Paslon Perseorangan Pemilihan 2018 klik di sini  Surat 504 Perkembangn NPHD klik di sini 

Debat Kandidat Kesempatan Gaet Swing Voters

Tanggal : 05 Dec 2016 22:56:00 • Penulis : admin • Dibaca : 1141 x


Jakarta - Debat kandidat menjadi momentum penting menggaet para pemilih yang masih ragu atau belum memiliki pilihan dalam Pilgub DKI Jakarta mendatang. Pasangan petahana Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat diunggulkan karena memiliki kelebihan dari hasil kinerjanya selama ini. Namun, dua penantangnya pun tak berarti kehilangan peluang. Pasangan Agus Harimurti-Sylviana Murni dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno akan mengangkat program-program mereka yang dapat meraih simpati pemilih.

Peneliti Populi Center, Nona Evita menilai, debat kandidat bisa mempengaruhi pilihan massa mengambang atau swing voters. Pasalnya, debat akan disiarkan secara langsung oleh media dan dinantikan masyarakat DKI Jakarta. Di sisi lain, pemilih Jakarta sangat rasional. "Debat terbuka merupakan momentum meraup suara karena masyarakat DKI kembali diingatkan untuk rasional dalam memilih dengan melihat kompetensi dan kapabilitas serta track record calon dalam memimpin," ujar Nona, Senin (5/12).

Ia menilai, tingginya angka swing voters DKI Jakarta karena pemilih dalam posisi wait and see terhadap kandidat beserta visi-misi dan programnya. "Harus diakui kasus dugaan penistaan agama yang dituduhkan kepada Ahok telah membuat swing voters menjadi besar karena banyak pemilih Ahok khususnya pemilih lemah kemudian menjadi wait and see terhadap berjalannya proses hukum Ahok," ujarnya.

Sedangkan menurut peneliti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Sirojudin Abbas, tingginya swing voters disebabkan oleh tiga hal. Pertama, pergeseran pemilih lemah Ahok yang sudah ragu dengan Ahok lantaran kasus dugaan penistaan agama. Namun, mereka belum menyatakan pilihannya ke kandidat lain atau menahan diri untuk menyatakan pilihannya.

Kedua, pemilih mengambang ini besar disebabkan karena belum teryakinkan dengan kandidat lain selain Ahok-Djarot. Secara emosional mereka ragu memilih Ahok karena kasus penistaan agama, tetapi secara rasional mereka belum teryakinkan dengan kinerja Agus dan Anies.

Ketiga, pemilih Ahok baik yang lemah dan kuat takut menyatakan pilihannya karena merasa terintimidasi atau terancam.

"Jadi, meskipun tiga survei terakhir, dari Indikator Politik, Poltracking dan Charta Politika, menempatkan elektabilitas Agus-Sylvi di urutan pertama, namun hal itu masih bisa berubah karena besar swing voters ini," ungkap dia.

Menurut Nona, momentum debat kandidat pasti dimanfaatkan benar oleh kubu Ahok-Djarot mengingat angka kepuasan masyarakat terhadap petahana ini ada di kisaran 70%-80%. Angka itu bukanlah angka yang kecil.

Debat kandidat, menurut Nona, bisa menggeser sentimen negatif dari Aksi 411 maupun 212. "Jika pemilih Ahok kembali teryakini melalui debat kandidat, sementara Agus dan Anies tidak meyakinkan, maka pemilih DKI Jakarta yang ragu-ragu dan belum menentukan pilihannya akan kembali memilih Ahok. Ini tentunya akan mengurangi keberadaan swing voters," terang Nona.

Menurut Sirojudin Abbas, keberadaan swing voters ini cukup besar, sekitar 30% sampai 35% pemilih DKI Jakarta.

Pilgub DKI Jakarta, katanya, semakin kompetitif pasca-Ahok dijerat masalah hukum terkait kasus penistaan agama. Masing-masing kandidat mencari strategi untuk merebut swing voters yang jumlah cukup besar.

Abbas mengatakan, mayoritas pemilih Jakarta adalah pemilih rasional, moderat, punya akses informasi, rata-rata pendidikan SMA ke atas, penghasilan Rp 3 juta ke atas dan memiliki pekerjaan yang relatif stabil. Pemilih seperti itu, kata Abbas cenderung memiliki pilihan yang konsisten dan mantap.

"Namun, ada sebagian pemilih DKI Jakarta yang mudah dipengaruhi pilihannya, mudah dimobilisasi dan dimanipulasi pikirannya sehingga pilihannya berubah-ubah. Biasanya perempuan khususnya ibu rumah tangga, pendidikan SMP ke bawah, penghasilan 3 juta ke bawah dan tinggal di daerah murah dan padat penduduk. Mereka ini berpotensi jadi swing voters," terang dia.

Sementara itu, menurut pakar politik dari Universitas Indonesia (UI), Arbi Sanit, karakterisasi masyarakat pada Pilgub DKI Jakarta 2017 terbagi atas dua yakni pemilih primordial dan pemilih rasional. Pemilih primordial, cenderung mengedepankan latar belakang pasangan calon (paslon) gubernur dan wakil gubernur seperti suku serta agama. Sedangkan pemilih rasional, tertarik dengan paslon yang benar-benar memberikan bukti.

Menurut Arbi, pemilih rasional jumlahnya lebih banyak dari yang primordial. Sebab, masyarakat Jakarta mayoritas merupakan kalangan menengah. “Pemilih rasional yang paling banyak menurut hemat saya. Sebagian besar generasi milenial, mereka tidak pusing dengan faktor suku dan agama,” kata Arbi.

Dia menambahkan, paslon nomor urut dua Ahok-Djarot berpotensi meraup suara dari pemilih rasional. “Calon lain bisa beri janji mungkin lebih bagus dari Ahok, tapi belum bisa dilaksanakan. Terbukti hanya Ahok yang membangun Jakarta modern maju dan berkembang,” imbuhnya.

Dia menyatakan, pemilih primordial sudah menjatuhkan pilihan kepada dua paslon lain yakni Agus-Sylvi dan Anies-Sandi. “Pemilih primordial sudah pilih calon lain,” ujarnya.

Berkaitan dengan angka swing voters yang cukup tinggi, Arbi menyatakan hal itu wajar. Pasalnya, swing voters sedang menunggu proses hukum kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok. “Sekarang swing voters sedang menunggu keputusan pengadilan,” katanya.

Menurutnya, Ahok-Djarot nantinya akan sangat mudah menggaet swing voters. “Dia (Ahok) sudah buktikan mampu buat program pembangunan berjalan. Kalau dua paslon lainnya enggak bisa buktikan apa-apa. Anies dua tahun jadi menteri dipecat, Agus pengalaman nol, apa bisa?” ucap Arbi.

Hal senada diungkapkan pengamat politik dari Universitas Paramadina, Hendri Satrio, bahwa kasus dugaan penistaan agama sedikit banyak berpengaruh terhadap pemilih Ahok-Djarot. “Pendukung Ahok selama ini jadi ragu-ragu, tetapi justru belum mau beri dukungan ke Agus dan Anies,” katanya.

Menurutnya, seluruh paslon kini harus memanfaatkan berbagai cara untuk meraup suara swing voters. Sebab, pola komunikasi dari masing-masing paslon masih dinilai biasa. “Mas Agus dicitrakan punya brand Yudhoyono yang kuat, bersih dan masih muda, harus diperbanyak komunikasinya, misal apa yang dilakukan bila jadi gubernur, karena sampai saat ini masih biasa-biasa, bahkan bermasalah dengan Bawaslu. Tapi info-info Mas Agus di medsos (media sosial) mengena sekali,” katanya.

“Kalau Ahok strateginya sudah tepat, lebih banyak diam lalu Djarot yang keliling. Hanya mereka perlu lakukan komunikasi politik lebih masif. Kalau Anies, bahasa-bahasanya masih ketinggian. Anies sering bilang akan buka lapangan kerja, tapi seperti apa dan bagaimana?” ujar Hendri.

Dia menambahkan, masa kampanye yang berlangsung hingga 11 Februari 2017 sepatutnya dioptimalkan dengan metode tatap muka. “Blusukan ketemu pemegang suara di Jakarta itu sangat penting. Nampaknya warga Jakarta lebih ingin ketemu langsung paslon,” katanya. (sumber:beritasatu.com)

Post Terkait

Statistik Pengunjung
Link KPU Daerah
KIP Aceh
http://kip.acehprov.go.id/
KPU Provinsi Sumatera Utara
http://kpud-sumutprov.go.id/
KPU Provinsi Sumatra Barat
http://sumbar.kpu.go.id/
KPU Provinsi Riau
http://kpu-riauprov.go.id/
KPU Provinsi Sumatera Selatan
http://sumsel.kpu.go.id/
KPU Provinsi Lampung
http://www.kpud-lampungprov.go.id/
KPU Provinsi Kep. Babel
http://kpu-babelprov.go.id/
KPU Provinsi Kepri
http://kepri.kpu.go.id/
KPU DKI Jakarta
http://kpujakarta.go.id
KPU Provinsi Jawa Barat
http://jabar.kpu.go.id/
KPU Provinsi Jawa Tengah
http://kpu-jatengprov.go.id/
KPU Provinsi Jawa Timur
http://www.kpujatim.go.id/
KPU Provinsi Banten
http://kpu-bantenprov.go.id/
KPU Provinsi Bali
http://bali.kpu.go.id/
KPU Provinsi NTB
http://kpud-ntbprov.go.id/
KPU Provinsi NTT
http://www.kpud-nttprov.go.id/
KPU Provinsi Kalbar
http://kalbar.kpu.go.id/depan
KPU Provinsi Kalteng
http://kpu-kaltengprov.go.id/
KPU Provinsi Kalsel
http://kpu-kalselprov.go.id/
KPU Provinsi Kaltim
http://kaltim.kpu.go.id/
KPU Provinsi Sulawesi Tenggara
http://kpud-sultraprov.go.id/
KPU Provinsi Sulawesi Tengah
http://www.kpu-sultengprov.go.id/
KPU Provinsi Sulawesi Selatan
http://sulsel.kpu.go.id/
KPU Provinsi Sulawesi Utara
http://www.kpu-sulutprov.go.id/
KPU Provinsi Gorontalo
http://kpu-gorontaloprov.go.id//
KPU Provinsi Sulawesi Barat
http://kpu-sulbarprov.go.id/
KPU Provinsi Maluku
http://kpu-malukuprov.go.id/
KPU Provinsi Maluku Utara
http://www.kpu-malutprov.go.id/
KPU DIY
http://diy.kpu.go.id/
KPU Provinsi Bengkulu
http://www.kpu-bengkuluprov.go.id
KPU Provinsi Jambi
http://kpud-jambiprov.go.id/
KPU Provinsi Papua Barat
http://kpu-papuabaratprov.go.id/
KPU Provinsi Papua
http://kpu-papuaprov.go.id/
KPU Provinsi Kalimantan Utara
https://kaltaraprov.kpu.go.id/index.php

Selengkapnya...